O.k...., Kali ini Admin akan Coba Sedikit Mengulas Tentang Sejarah Batik Lasem....,
Berbicara tentang Batik Lasem..., tentu tak lepas dari Masyarakat Tionghoa yg ada di daerah Lasem ini...., Makanya Hampir rata-rata Batik dari daerah Lasem Memiliki corak yang Khas Hasil dari Perpaduan Corak TiongHowa dan Jawa.
O.k..., Berikut Admin Sajikan Sejarah dari Batik Lasem yg di tulis Oleh Kwan Hwie Liong (William Kwan), Beliau adalah Praktisi dan Penggerak Tradisi Membatik di daerah Lasem...
Berdasarkan sumber sejarah lokal pada kitab Badrasanti (1478
Masehi), IPI memperkirakan proses pembatikan di Lasem sudah berlangsung sejak
puteri Na Li Ni dari kerajaan Champa (Vietnam) mengajarkan teknik batik kepada
anak-anak di daerah Kemendung (Lasem) pada kurang lebih tahun 1420 Masehi.
Batik Lasem merupakan batik bergaya pesisiran yang kaya
motif dan warna. Nuansa multikultur sangat terasa pada lembaran batik Lasem.
Kombinasi motif dan warna batik Lasem yang terpengaruh desain budaya Tionghoa,
Jawa, Lasem, Belanda, Champa, Hindu,
Buddha serta Islam tampak berpadu demikian serasi, anggun dan memukau.
Demikian pula halnya, warna cerah batik Lasem khususnya
warna merah sangat terkenal di kalangan pecinta batik Indonesia. Warna merah
batik Lasem yang biasa disebut penduduk Lasem sebagai ”abang getih pithik
(merah darah ayam)” telah diakui sebagai warna merah terbaik yang tidak dapat
ditiru pembuatannya di daerah sentra batik lainnya. Akibatnya, tidaklah
mengherankan jika banyak pengusaha batik di daerah lain (misal: Pekalongan,
Surakarta, Yogyakarta, Semarang dan Cirebon) berusaha mendapatkan kain blangko
bang-bangan, yaitu kain yang baru diberi pola dasar dan dicelup warna merah
pada sebagian motif-nya.
Secara bertahap pembatikan di Lasem menjadi industri rumah
tangga yang memiliki kedudukan penting dalam perekonomian penduduk Lasem.
Hampir seluruh rumah tangga di Lasem mengelola usaha batik.
Kemajuan industri batik Lasem sangat pesat. Pemasaran batik
Lasem pada awal abad XX sudah meliputi seluruh Jawa, Sumatera, Bali, Thailand
selatan, Malaka dan Suriname. Tidak mengherankan jika industri batik Lasem
menjadi sebagai salah satu dari lima sentra batik terbesar Hindia Belanda,
sejajar dengan industri batik di daerah-daerah Surakarta, Pekalongan,
Yogyakarta dan Cirebon. Hal ini dimungkinkan karena cukup banyaknya jumlah
pengusaha batik yang cakap di Lasem. Pada tahun 1930 jumlah pengusaha batik di
Lasem adalah 120 orang. Mereka seluruhnya merupakan pengusaha batik etnis
Tionghoa.
Kejayaan industri batik Lasem berlanjut sampai tahun 1942.
Selama masa pendudukan Jepang, seluruh usaha batik di Lasem ditutup. Barulah
sekitar tahun 1950 pengusaha batik Lasem mencoba bangkit kembali. Kemajuan
usaha batik memang terjadi tidak secemerlang masa Hindia Belanda.
Jumlah pengusaha batik Lasem terus berkurang akibat kurang lancarnya regenerasi pengusaha
batik, krisis ekonomi nacional dan
ketatnya persaingan antar sesama pengusaha batik. Demikian pula halnya,
permintaan terhadap kain batik Lasem menurun tajam akibat perubahan gaya
pakaian masyarakat Indonesia yang mulai mengadopsi gaya pakaian barat. Jumlah
pengusaha batik Lasem terkikis tajam dari sekitar 140 orang (+/- tahun 1970)
menjadi hanya tinggal 18 orang (tahun 2004). Kondisi ini menyebabkan rendahnya
daya serap industri batik Lasem terhadap para pembatik potensial di berbagai
desa tertinggal.
Akibatnya, pengangguran tenaga kerja pembatik pun tidak
dapat dihindarkan. Sebagai contoh, survey IPI pada tahun 2006 menunjukkan
pengangguran terbuka dari 40% tenaga kerja pembatik di desa Jeruk, kecamatan
Pancur. Pembatik yang beralih pekerjaan adalah 41%. Jadi, jumlah pembatik yang
masih aktif bekerja saat itu tinggal 19% saja. Hal ini tentu saja mendatangkan
penderitaan ekonomi yang tidak kecil pada keluarga buruh tani yang biasanya
memperoleh penghasilan tambahan sebagai pembatik.
Sementara itu, generasi muda dari keluarga pembatik enggan
meneruskan pembatikan akibat relatif rendahnya upah kerja di industri batik
tradisional dibandingkan dengan upah pekerjaan lain di sektor modern.
Di samping itu, pengetahuan budaya batik Lasem masih sangat
terbatas di kalangan generasi muda Kabupaten Rembang. Kurangnya data tentang
sejarah, ragam motif, fungsi dan nilai filosofi batik Lasem menyebabkan
sulitnya pengembangan pendidikan budaya batik Lasem, baik sebagai pelajaran
muatan lokal di sekolah maupun sebagai kegiatan pendidikan non formal di bidang
ketrampilan batik di lingkungan keluarga.
Akibatnya, kelestarian budaya batik Lasem sulit dijamin di
masa yang akan datang. Untuk itu, sinergi multi pihak peduli, termasuk kita
sendiri sebagai unsur bangsa Indonesia, sangat diperlukan dalam penguatan kesadaran budaya serta daya
saing industri batik Lasem. Mari kita berjuang bersama untuk melestarikan dan
mengembangkan budaya kain tradisi Indonesia, termasuk batik Lasem.
(William Kwan)
Dan Berikut Ini Kami Sajikan Beberapa koleksi Toko Syaffira,
Untuk Masalah Harga Bervariatif Berkisar antara Rp 150 rb sampai 1.500.000,-, Tergantng Bahan dan Proses Pembuatan (Pembatikan)..., Serta Ke Khasan Batik Tulis Lasem....,
Batik Tulis Lasem 1
|
Batik Tulis Lasem 2 |
Batik Tulis Lasem 3 |
Dan Adapun Sejarah Batik Lasem Menurut Masyarakat dan Pemerintah Setempat Sbb ;
*** SEJARAH BATIK LASEM ***
Sejarah Batik lasem berkorelasi erat dengan kedatangan
Laksamana Cheng Ho pada tahun 1413.
Babad Lasem Karangan Empu Santri Badra di Tahun 1401 Saka (
1479 M), di Tulis ulang oleh Panji Kamzah tahun 1858
mengungkapkan, anak buah
kapal Dhang Puhawang Tzeng Ho dari Negara Tiong Hwa, Bi Nang Un dan Na
Li Ni memilih menetap di Bonang setelah melihat keindahan Alam Jawa.
Di Tempat mukim baru ini Na Li Ni mulai membatik bermotifkan
Stailisasi Ornamen Burung Hong, Lion, Bunga seruni, banji dan mata uang.
Kelir batik faforitnya adalah Warna merah darah ayam Khas
Tiong Hwa. Motif motif dan warna getih Pitik tersebut akhirnya menjadi ciri
Khas Batik Lasem.
Keunikan batik tulis lasem mendapat tempat penting di dunia
Perdagangan.
Pedagang antar pulaudengan Kapal mengirim BatikLasem ke
Seluruh wilayah Nusantara.
Bahkan diawal abad XIX batik Lasem sempat di exportke manca
negara Seperti Tailand dan Suriname.
Batik Tulis mulai Masuk Kejayaan. Booming Batik Tulis Lasem
membuat para pengrajinmenjadi semakin kreatif.
Motif motif baru seperti atihan, Gunung ringgit, Kricakan,
atau watu pecah bermunculan.
*Shahdan*
Perajin menciptakan motif Kricakan karna
terinpirasi Pendritaan rakyat saat harus memecah batu-batu besar untuk dibuat
Jalan Raya (kini Jalan Raya Pantura) atas perintah Daendels.
Batik lasem Terus menorehkan catatan emas hingga menjelang
berakhirnya masa Penjajahan kolonial Belanda. Para pengusaha batik Lasem yang berasal
dari Tiong Hwa mendapat Tempat istimewa di kalangan Penduduk Pribumi, karna
membuka banyak lapangan kerja.
Masa kejayaan Batik
yang menjadi Ikon Pembauran Budaya Jawa dan China itu mulai Menyurut tahun
1950-an. Penyebab utama kemunduran Batik Lasem adalah karna terdesak oleh
maraknya batik Cap di berbagai Daerah,
Selain itu juga di karenakan dikarenakan kondisi politik
yang menyudutkan Etnis China yang merupakan penguasa Perdagangan Batik Lasem.
Menurut data Forum Economi Development (Fedep) Rembang,
Tahun 1950-an ada sekitar 140 pengusaha Batik Lasem. Tahun 1970-an jumlahnya
merosot hingga tinggal separo. Puncaknya tahun 1980-an pengusaha Batik Lasem
hanya tinggal mencapai 7 Orang saja yang Aktif.
Selamjutnya Perkembangan Batik Lasem Terus Mengalami Pasang
surut.
Lasem adalah sebuah kota kecil di daerah Jawa Tengah. Kota
ini sangat terkenal dengan julukan sebagai Tiongkok Kecil ( Little Tiongkok )
karena memiliki banyak bangunan kuno khas kawasan pecinan. Selain itu,
kota Lasem juga terkenal dengan kerajinan batiknya yang
indah dan khas yaitu Batik Lasem.
Tak tanggung-tanggung, dalam even itu ditampilkan ratusan
lembar kain batik Lasem dalam beraneka warna dan motif yang dikenakan oleh
ratusan pelajar.
Selain keindahan pada
batik Lasem itu sendiri, ternyata ada banyak kisah yang menarik lainnya tentang
Batik Lasem. Menjadikannya sebagai salah satu khazanah kekayaan budaya di
nusantara. *Batik Lasem atau sering disebut
Batik Laseman merupakan batik bergaya pesisiran yang kaya
motif dan warna yang cerah dan berani. Nuansa multikultur sangat terasa pada
lembaran Batik Lasem.
Kombinasi motif dan warna Batik Lasem yang terpengaruh
desain budaya Tionghoa, Jawa, Lasem, Belanda, Champa, Hindu, Buddha serta Islam
tampak berpadu demikian serasi, anggun dan memukau.
Warna cerah Batik Lasem khususnya warna merah sangat
terkenal di kalangan pecinta batik Indonesia.
Ciri khusus Batik Lasem yang tidak akan temui pada batik
jenis lainnya adalah warna merahnya yang terkenal dengan nama warna Abang Getih
Pitik atau warna darah ayam. Warna ini terbuat dari akar mengkudu dan akar
jiruk ditambah air Lasem yang kandungan mineralnya sangat khas.
Warna ini bahkan tidak dapat dibuat di labolatorium. Warna merah tersebut telah diakui sebagai
warna merah terbaik yang tidak dapat ditiru pembuatannya di laboratorium atau
di daerah sentra batik lainnya.
Akibatnya, tidaklah
mengherankan jika banyak pengusaha batik di daerah lain (misal: Pekalongan,
Surakarta, Yogyakarta, Semarang dan Cirebon) berusaha mendapatkan kain blangko
bang-bangan, yaitu kain yang baru diberi pola dasar dan dicelup warna merah
pada sebagian motifnya.
Selain itu, Batik Lasem klasik pun memiliki warna lain dan
motif yang khas. Misalnya, batik Bang-bangan (warna merah), Biron (biru),
Bang-Biron (merah-biru), es teh atau Sogan (kekuningan),
Tiga Negeri (merah-biru-cokelat), dan Empat Negeri atau Tiga
Negeri Ungon (merah-biru-soga-ungu). Masing-masing warna memiliki makna dan
pemakaian yang berbeda. Motif Batik
Lasem secara umum hanya ada dua motif, yakni motif Cina dan non Cina.
Batik Lasem Motif Non Cina
adalah Batik Tulis Lasem yang
motif-motifnya tidak dipengaruhi oleh budaya Cina. Motif Batik Lasem ini
didominasi motif batik Jawa, diantaranya motif Sekar Jagad, Kendoro Kendiri,
Grinsing, Kricak/Watu Pecah, Pasiran, Lunglungan, Gunung Ringgit,
Pring-pringan,
Pasiran Kawung, Kawung Mlathi, Endok Walang, Bledak
Mataraman, Bledak Cabe, Kawung Babagan, Parang Rusak, Parang Tritis, Latohan,
Ukel, Alge, Ceplok Piring, Ceplok Benik, Sekar Srengsengan, Kembang Kamboja,
dan Sido Mukti.
Sedangkan Batik Lasem Motif Cina, yakni Batik Tulis Lasem yang
motifnya dipengaruhi budaya China, bahkan unsur orientalnya sangat kental dan dominatif,
diantaranya motif fauna Cina plus non Cina. Contoh motif fauna Cina motif
burung hong (phoenix) yang dikenal sebagai Lok Can, naga (liong), kilin, ayam
hutan, ikan emas, kijang, kelelawar, kupu-kupu, kura-kura, ular, udang,
kepeting, dan sebagainya.
Motif fauna Cina ini berkolaborasi dengan motif batik Jawa,
seperti parang, udan riris, kawung, kendoro kendiri, sekar jagad,
anggur-angguran, dan sebagainya. Motif Flora Cina plus motif non Cina, misalnya
bunga seruni (chrysanthemum), peoni, magnolia, sakura (cherry blossom), bambu,
dan sebagainya.
Motif flora Cina ini juga sering bersimbiosis mutualisme
dengan motif batik Jawa. Ada juga motif
lain bergaya Cina selain flora dan fauna plus motif batik non Cina. Contohnya
motif kipas, banji, delapan dewa (pat sian), dewa bulan, koin uang (uang
kepeng). Motif kombinasi Cina plus motif
batik non Cina.
Maksud kombinasi motif
adalah dalam satu Batik Lasem keindahan motif fauna dan flora Cina
berbaur dengan keindahan motif-motif batik Jawa. Masing-masing motif ini
memiliki makna tersendiri yang sangat kaya nilai filosofinya. Adanya kisah berkaitan dengan budaya Cina itu
karena menurut catatan sejarah,
Lasem pada masa lampau (1350-1375) adalah sebuah kerajaan
kecil di bawah Kerajaan Majapahit. Uniknya, sang
pemimpin selalu kaum wanita. Berdasarkan sumber sejarah lokal pada kitab
Badrasanti (1478 Masehi), diperkirakan proses pembatikan di Lasem sudah
berlangsung sejak puteri Na Li Ni dari kerajaan Champa (Vietnam) mengajarkan
teknik batik kepada anak-anak di daerah Kemendung (Lasem) pada kurang lebih
tahun 1420 Masehi.
Na Lui Ni adalah
isteri salah seorang nahkoda kapal Cheng Ho, Bi Nong Hua. Usai
menemukan pujaan hatinya, sang nahkoda meminta ijin pada Cheng Ho untuk menetap
di Lasem yang kemudian disetujui.
Dari
kisah dan ilmu membatik yang diajarkannya
itulah kemudian berkembang hingga
saat ini dengan nuansa pasang surutnya sesuai dengan perkembangan jaman di
daerah Lasem.
|
Batik Tulis Lasem 4
|
Batik Tulis Lasem 5
|
Batik Tulis Lasem 6 |
O.k...., Sampai Disini..., Mudah Mudahan Smua Sobat
SYAFFIRA Sudah Mengerti Tentang
Sejarah Batik Tulis asal Lasem .....,
Bila ada yg Mau Nambahin tentang
Sejarah Batik Lasem yg lebih Komplit dan Lengkap Silahkan Tulis di Komentar ya Sob......., Terimakasih....
|
Batik Tulis Lasem 7 |
Batik Tulis Lasem 8 |
Batik Tulis Lasem 9 |